Pakar: Keluarga Perlu Diberi Pemahaman Soal Penanganan Covid-19

Pakar: Keluarga Perlu Diberi Pemahaman Soal Penanganan Covid-19
Guru Basa Sunda SMAN 3 Bandung Encep Ridwan. (Okky Adiana)

INILAH, Bandung - Virus Corona telah merebak secara global termasuk di Indonesia. Puluhan ribu nyawa melayang. Semua negara masih berjuang memutus penyebarannya.

Akibat pandemi virus ini semua orang, satu sama lainnya jadi saling waspada. Ada yang bersin-bersin dan batuk-batuk menjadi dicurigai. Apalagi yang tidak memakai masker. Hal tersebut menimbulkan rasa kekhawatiran.

"Kita pun menghindar dari orang tersebut. Dari kejadian ini akan membuat yang bersangkutan merasa tersinggung karena dihindari, apalagi dicurigai terkena gejala virus corona. Teman-teman di sekelilingnya setidaknya akan menjaga jarak bahkan menjauh," ujar Guru Basa Sunda SMAN 3 Bandung Encep Ridwan, Minggu (5/4/2020).

Dia mengatakan, di samping itu roda ekonomi di dunia termasuk Indonesia dan Jawa Barat, terkena dampak yang hebat. Dalam kehidupan sehari-hari di kalangan masyarakat menengah ke bawah (pekerja informal) seperti para pedagang di pasar tradisional, kelontong, sayuran, penjual ikan, dan lainnya merasakan imbasnya, akibat menurunnya daya beli masyarakat.

Tidak terkecuali supir angkot, taksi, ojeg online yang kesehariannya mengandalkan penghidupan dari para penumpangnya, terkena dampak. Terlebih setelah pemerintah memberlakukan belajar di rumah dan bekerja (dilakukan di rumah masing-masing). Karena semua aktivitas masyarakat baik persekolahan, perguruan tinggi, perkantoran, pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan lainnya yang melibatkan orang banyak hampir semua diliburkan, mengakibatkan banyak penumpang yang selama ini menjadi konsumennya pun berkurang drastis.

"Melihat itu pemerintah juga tidak tinggal diam, melalui SKPD di kabupaten/kota bahkan sampai ke kecamatan dan desa melalaui bidang sosial, bergerak cepat memberikan bantuan finansial/sembako untuk mengatasi kondisi sekarang ini. Ditambah dengan terus menyosialisasikan mengenai prilaku hidup bersih dan sehat, seperti anjuran WHO. Di antaranya sering mencuci tangan dengan sabun/hand sanitizer, makan makanan bergizi dan seimbang, olahraga, istirahat cukup, dan lainnya," papar Ketua MGMP Basa Sunda Jenjang SMA Jawa Barat ini.

Sebenarnya kalau melihat kondisi ‘real’ di lapangan kata Encep, bila dibandingkan antara masyarakat kota dan pedesaan (kampung), dampak pandemi COVID-19 bagi masyarakat kota sangatlah meresahkan, termasuk dalam melaksanakan ibadah salat berjamaah di masjid, untuk sementara waktu ditiadakan.

Hal itu sebagai upaya mencegah dan memutus mata rantai COVID-19. Dalam bertatakrama pun seperti bersalaman, bertemu/berpapasan kini saling menjaga jarak (social/physical distancing), karena saling waspada satu sama lainnya. Aktivitas membeli makanan untuk memenuhi kubutuhan dasar serta keluar rumah saja, dengan kondisi seperti ini muncul rasa was-was dan mencekam.

Berbeda halnya dengan masayarakat di pedesaan, Encep menyebut aktivitas keseharian mereka seperti bertani, berdagang, berjualan, saat ini relatif masih berjalan normal. Termasuk dalam melaksanakan ibadah sholat fardu berjamaah dan sholat Jumat. Untuk memenuhi bahan-bahan makanan pun mereka umumnya hanya tinggal memetik dipekarangannya. Rasa takut yang mencekam di pedesaan tidak semencekam di kota.

"Namun untuk aktivitas persekolahan dan perkantoran, karena ada aturan dari pemerintah maka kegiatan tersebut di laksanakan dirumah masing-masing, sesuai dengan peraturan yang diberlakukan. Dampaknya di bidang penjualan hasil pertanian, yang biasanya dijual ke pasar-pasar sementara diperketat, menyebabkan perekonomian mereka terhambat. Para pelajar dan mahasiswa juga kena dampaknya belajar di rumah masing-masing, untuk yang di kota dalam melaksanakan pembelajaran di rumah tidak begitu terkendala, karena tersedianya fasilitas internet dan sarana pendukung lainnya," ucap Encep.

Lain halnya dengan pelajar yang ada di pedesaan, contohnya saja ketika ada pengumuman ditambahnya lagi waktu masa belajar di rumah akibat virus corona, mereka dari pagi petang sudah berangkat ke sekolah untuk belajar seperti biasa. Sesampainya di sekolah, guru/pihak sekolah mengumumkan secara manual untuk ditambah masa belajar di rumahnya dan belum sempat memberikan materi pembelajaran di rumah masing-masing, karena keterbatasan sarana dan fasilitas internet. Tidak dipungkiri hal itu menyebabkan proses belajar mengajar di pedesaan agak terhambat.

Tidak sedikit masyarakat di Indonesia yang memanfaatkan waktu belajar dan bekerja di rumah untuk melakukan social/physical distancing malah digunakan untuk liburan ataupun pulang kampung. Dampaknya bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga masyarakat, dengan demikian sangat dibutuhkan kesadaran diri (self consisnuos) akan keselamatan diri dan lingkungan.

Oleh sebab itu peran serta keluarga untuk menangani masalah ini, perlu diberikan pemahaman dan penanganan yang baik terhadap anggota keluarga untuk pencegahan bahkan memutus COVID-19.

Salah satu contoh untuk menghindari penyebaran influensa yang diterapkan di kampung Bunikasih kecamatan Talegong-Garut dengan menggunakan tehnik siber (sina beresin) yakni yang beresin, batuk-batuk dan mengeluarkan dahak, ludah dibuangnya ke bara tungku api yang menyala (hawu) atau menyediakan oven yang dipanaskan oleh api atau dipanaskan oleh listrik. Diharapkan virus apapun dengan menggunakan tehnik ini tidak mewabah kemana-mana.

"Akhirnya hanya sabar dan sholat sebagai penolong kita dengan bermunajat kepada Alloh SWT atas musibah ini. Asalnya dari Allah dan insya Allah dikembalikan lagi kepada Allah. Jika waktu itu telah datang maka tidak seorangpun mampu mencegahnya. Namun kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa sebagai penyelamat untuk terhindar dari penyakit dan wabah ini," tambah Encep. (Okky Adiana).